Dugaan Beking Oknum Berseragam hingga Isu Jenderal Menguat, Warga Tigo Lurah Minta Negara Hadir

SOLOK | Keresahan mendalam kini dirasakan masyarakat Nagari Batu Bajanjang, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok. Di tengah sunyinya malam pegunungan yang dahulu dikenal tenang dan asri, warga mengaku kini dihantui lalu lalang kendaraan bermuatan diduga solar subsidi ilegal yang disebut menuju lokasi tambang di kawasan Garabak Data. Curhatan demi curhatan itu disampaikan warga kepada awak media melalui pesan WhatsApp, Senin (26/5/2026), dengan harapan persoalan tersebut dapat menjadi perhatian publik hingga tingkat nasional.

Warga mengaku sudah terlalu lama memendam keresahan. Mereka menyebut aktivitas kendaraan jenis Strada dan mobil pengangkut lainnya diduga berlangsung hampir setiap malam. Jalur Nagari Batu Bajanjang disebut menjadi lintasan utama kendaraan pembawa BBM subsidi yang diduga digunakan untuk operasional tambang ilegal di kawasan pedalaman.

“Kami sudah sangat resah. Kampung kami jadi jalur minyak ilegal. Datangnya malam-malam, warga banyak yang takut bicara,” ungkap seorang warga dalam pesan yang diterima redaksi.

Tidak hanya soal kenyamanan, warga juga mengeluhkan dampak lingkungan yang mulai terasa. Jalan kampung rusak, suasana malam berubah mencekam, dan aktivitas masyarakat disebut terganggu akibat intensitas kendaraan yang keluar masuk hingga dini hari. Sebagian warga bahkan merasa daerah mereka kini seperti kehilangan ketenangan yang dulu menjadi identitas kawasan perbukitan Tigo Lurah.

Di balik keresahan itu, muncul pula dugaan serius yang berkembang di tengah masyarakat. Warga menduga informasi mengenai rencana razia aparat telah bocor terlebih dahulu sehingga stok solar subsidi diduga sengaja ditimbun dalam jumlah besar sebelum operasi dilakukan. Dugaan tersebut membuat sebagian masyarakat menilai razia yang selama ini dilakukan hanya bersifat seremonial dan tidak menyentuh akar persoalan.

“Seminggu sebelum razia katanya minyak sudah banyak masuk dan disimpan. Pas razia malah sepi. Jadi masyarakat heran,” tulis warga lainnya kepada media ini.

Kekecewaan warga semakin memuncak karena mereka merasa penegakan hukum terhadap dugaan tambang dan distribusi solar ilegal berjalan setengah hati. Bahkan, sejumlah warga menyebut adanya dugaan keterlibatan oknum aparat dalam aktivitas tersebut. Dugaan itu muncul karena kendaraan disebut tetap leluasa melintas meski isu operasi penertiban telah beredar luas.

“Kalau memang mau serius memberantas, kenapa bisa lolos terus? Warga kecil jadi bertanya-tanya,” ujar warga dengan nada kecewa.

Dalam pesan yang diterima redaksi, masyarakat juga mengaku takut untuk bersuara terbuka. Mereka merasa tidak memiliki kekuatan menghadapi pihak-pihak yang diduga memiliki pengaruh besar di balik aktivitas tersebut. Sebagian warga bahkan menyebut adanya dugaan keterlibatan oknum berseragam, meski hal itu belum dapat dibuktikan secara hukum.

Kondisi ini membuat masyarakat memilih menyampaikan keluh kesah melalui media, berharap suara mereka bisa sampai kepada pemerintah pusat dan aparat penegak hukum yang benar-benar ingin menindak tegas praktik ilegal yang meresahkan masyarakat serta merusak alam.

Di sisi lain, isu dugaan adanya “beking” terhadap aktivitas tambang dan distribusi BBM ilegal juga menjadi pembicaraan hangat di tengah masyarakat. Warga menyebut mendengar kabar bahwa ada pihak-pihak kuat yang diduga melindungi aktivitas tersebut. Namun hingga kini, informasi itu masih sebatas pengakuan dan desas-desus warga yang belum terverifikasi secara hukum.

Meski demikian, keresahan masyarakat Nagari Batu Bajanjang tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka hanya ingin kampung mereka kembali aman, jalan nagari tidak lagi dilintasi kendaraan bermuatan BBM pada malam hari, dan lingkungan tetap terjaga untuk anak cucu mereka di masa depan.

“Kami warga biasa tidak sanggup melawan. Kami cuma ingin kampung kami nyaman lagi,” tulis salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Fenomena dugaan maraknya distribusi solar subsidi ilegal untuk aktivitas tambang memang menjadi persoalan serius di berbagai daerah Sumatera Barat. Selain berpotensi merugikan negara, praktik tersebut juga dapat memperparah kerusakan lingkungan dan menimbulkan konflik sosial di tengah masyarakat.

Warga berharap aparat penegak hukum tidak hanya melakukan razia sesaat, tetapi benar-benar mengusut rantai distribusi BBM ilegal hingga aktor utama di balik aktivitas tersebut. Mereka juga meminta adanya pengawasan ketat terhadap jalur distribusi BBM subsidi agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan tambang ilegal.

Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak kepolisian, aparat terkait, serta instansi berwenang lainnya mengenai keluhan warga dan dugaan aktivitas distribusi solar subsidi ilegal di wilayah Tigo Lurah tersebut.

Berita ini disusun berdasarkan informasi, pengakuan, dan keluhan warga yang disampaikan kepada redaksi melalui pesan WhatsApp. Seluruh dugaan yang disebutkan dalam pemberitaan ini masih memerlukan pembuktian lebih lanjut sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Redaksi menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah dan membuka ruang hak jawab serta klarifikasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

TIM




Warga Tigo Lurah Menangis dalam Sunyi, Dugaan Solar Ilegal dan Tambang Menggurita hingga Malam Hari

“Kami Tak Nyaman Lagi Tinggal di Kampung Sendiri,” Curhatan Warga Batu Bajanjang Soal Dugaan Solar Ilegal ke Garabak

Tigo Lurah Bergolak, Warga Resah Ratusan Mobil Diduga Angkut Solar Subsidi untuk Tambang Ilegal

Razia Dinilai Hanya Formalitas, Warga Tuding Dugaan Permainan Tambang dan Solar Ilegal Sudah Lama Terjadi

Tangis Warga Batu Bajanjang Pecah, Jalan Nagari Disebut Jadi Jalur Solar Subsidi untuk Aktivitas Tambang

0/Post a Comment/Comments