PD. PARIAMAN | Ketahanan pangan tidak lahir hanya dari hamparan lahan pertanian yang luas. Di belakang sepiring nasi, sebutir telur dan sepotong daging, ada rantai panjang yang harus dijaga—mulai dari petani, bibit, pupuk, produksi, distribusi hingga harga yang tetap terjangkau masyarakat. Di titik inilah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Padangpariaman melihat pengembangan agribisnis jagung sebagai salah satu peluang strategis untuk memperkuat ekonomi daerah.
Ketua Kadin Padangpariaman Zeki Aliwardana, Kamis (6/8/2026), menegaskan Kadin siap bersinergi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak untuk mendorong agribisnis jagung yang tidak berhenti pada kegiatan produksi semata. Menurutnya, sektor tersebut harus dibangun menjadi mata rantai usaha yang berkelanjutan sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan petani sekaligus masyarakat luas.
Zeki melihat persoalan pangan nasional masih membutuhkan kerja serius. Tantangannya bukan hanya bagaimana menghasilkan komoditas dalam jumlah besar, tetapi bagaimana produksi tersebut memiliki kualitas, biaya yang efisien dan pasar yang sehat. Tanpa pembenahan dari hulu hingga hilir, produksi yang meningkat belum tentu otomatis membuat petani lebih sejahtera.
Jagung menjadi salah satu titik penting. Komoditas ini memiliki keterkaitan langsung dengan industri peternakan ayam ras. Ketika harga jagung bergejolak, biaya pakan dapat ikut terdampak. Efek berikutnya bisa merambat kepada harga telur dan daging ayam yang pada akhirnya dirasakan langsung oleh konsumen.
Karena itu, Kadin Padangpariaman mendorong agar pengembangan jagung dilakukan secara lebih serius dan terintegrasi. Pembibitan, ketersediaan pupuk dengan harga ekonomis, pemanfaatan limbah pertanian, teknologi produksi, penguatan pasar hingga stabilitas harga harus ditempatkan sebagai bagian dari satu ekosistem agribisnis.
Bagi Zeki, persoalan tersebut juga berkaitan dengan kepastian hukum. Petani, pelaku usaha, korporasi dan investor membutuhkan aturan yang jelas agar setiap mata rantai usaha memiliki kepastian. Ketahanan pangan harus dibangun dari hulu sampai hilir dengan ekosistem hukum yang kuat, terintegrasi dan mampu memberikan rasa aman bagi semua pihak.
Di tengah tantangan tersebut, Kadin Padangpariaman juga melihat generasi muda sebagai kekuatan yang tidak boleh ditinggalkan. Milenial dan Gen Z dinilai memiliki kemampuan untuk membawa teknologi, inovasi, kreativitas serta pemasaran digital ke sektor pertanian. Pertanian tidak semestinya terus dipersepsikan sebagai sektor lama yang minim peluang, sebab justru di dalam agribisnis terdapat ruang besar untuk tumbuh dan menciptakan lapangan kerja.
Zeki Aliwardana menegaskan Kadin Padangpariaman akan terus memperkuat komunikasi dan kolaborasi bersama pemerintah daerah serta para pemangku kepentingan. Pertanian harus naik kelas, petani harus mendapatkan kepastian, generasi muda harus diberi ruang, dan ketahanan pangan harus benar-benar diwujudkan dalam kehidupan masyarakat. Dari Padangpariaman, penguatan agribisnis jagung diharapkan bukan sekadar berbicara tentang komoditas, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi daerah yang lebih kuat dan kesejahteraan masyarakat yang lebih nyata.
TIM
Posting Komentar